Jumat, 08 September 2017

ISTILAH 'TRET TET TET YANG MENGAKAR KE SEGALANYA


Istilah 'Tret tet tet' yang Mengakar ke Segalanya

Membicarakan Persebaya, juga berarti tentang masyarakat Surabaya yang tegas dalam bersikap dan tidak ragu melawan kesewenang-wenangan. Sikap itulah yang ditunjukan oleh Bonek dalam beberapa waktu terakhir ini selama melakukan aksi 'Bela Persebaya' akibat pembekuan dari PSSI sejak 2013. 

Pembekuan itu dianggap kesewenang-wenangan yang dilakukan PSSI. Pasalanya PSSI yang lebih mengakui status Persebaya ciptaan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) daripada PT Persebaya Indonesia (PI). Padahal, Bonek menganggap Persebaya yang asli adalah kesebelasan yang digawangi PT PI dan kini diakuisisi PT Jawa Pos Sportaiment.

Namun, Persebaya yang asli bagi Bonek itu akhirnya dipulihkan kembali statusnya pada Kongres PSSI 8 Januari lalu. Perjuangan Bonek sekitar empat tahun lebih itu pun disambut bahagia dan "Persebaya yang asli" bagi mereka sudah bisa berkompetisi resmi lagi pada tahun ini. Alhasil, Bonek pun menjadi pahlawan sepakbola di masyarakat Surabaya. 

Padahal, sekitar 1990-an sampai awal 2000-an, Bonek dianggap sebagai ancaman sekaligus bahan lawakan di mata masyarakat dan kelompok suporter sepakbola lain di Indonesia. 

Semua stigma itu berawal dari istilah tret tet tet yang menjadi demam di sepakbola Surabaya pada akhir 1980-an. Istilah tret tet tet lahir ketika Persebaya melaju ke babak enam besar kompetisi Perserikatan 1986/1987, mengambil dari suara terompet yang berbunyi 'tet, tet, tet!' Bunyi itu dijadikan seruan di halaman depan pojok kiri bawa yang menghabiskan dua kolom koran Jawa Pos edisi 4 Maret 1987 itu.

Kemudian "tret tet tet" yang diciptakan Dahlan Iskan yang menjabat Pimpinan Redaksi Jawa Pos pada waktu itu pun menjadi istilah laga tandang tersendiri bagi pendukung Persebaya. Mungkin zaman sekarang "tret tet tet" bagi suporter sepakbola pada umumnya lebih dikenal dengan istilah laga tandang, bertandang atau away days.

Tapi bagi kalangan pendukung Persebaya, istilah ikonik melancong ke kandang lawan adalah tret tet tet. Bahkan sampai sekarang pun beberapa kelompok pendukung Persebaya atau media-media Surabaya masih memakai istilah tret tet tet ketika kesebelasannya bertandang ke kandang lawan. 

Dukungan semakin deras ketika Persebaya bangkit pada kompetisi Perserikatan 1986/1987 hingga menjadi juara kedua. Pada laga puncak itulah nama tret tet tet semakin sah menjadi ikon dari pendukung Persebaya yang menyaksikan pertandingan di luar Surabaya. 

Apalagi saat partai puncak melawan PSIS Semarang, tentu saja banyak pendukung Persebaya yang ingin menjadi saksi sejarah secara langsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Saat itulah Jawa Pos membuka pendaftaran bertema tret tet tet yang menjadi fenomena di kalangan pendukung Persebaya.

Asal Muasal Istilah bonek

Kemudian barulah istilah Bonek muncul di antara bibir ke bibir pada kompetisi perserikatan musim berikutnya. Lagi-lagi istilah dari Persebaya itu muncul karena cerita-cerita laga tandang atau Tret tet tet.

Istilah Bonek muncul dari mulut ke mulut karena para pendukung Persebaya dari masyarakat bawah sering nekat melakukan tret tet tet dengan dana yang sangat minim bahkan untuk membeli tiket transportasi umum pun tidak mampu. 

Akan tetapi, kondisi itu tidak dipedulikan masyarakat kalangan bawah yang berpartisipasi dalam Tret tet tet Persebaya. Toh masih ada berbagai macam truk atau mobil bak terbuka yang bisa ditumpangi, bahkan menjadi penumpang gelap di gerbong dapur, gudang, atap kereta pun sanggup dilakoni mereka.

Di sisi lain, tidak semua Bonek tidak memiliki uang untuk membayar alat transportasi. Terkadang mereka ingin merasakan sensasi bagaimana tret tet tet dengan risiko tinggi seperti itu. 

"Dulu itu belum ada istilah Bonek, istilah Bonek itu baru muncul pada 1988/1989. Istilah ini pun sebenarnya istilah masyarakat, bukan istilah yang ditelurkan oleh Jawa Pos," jelas Slamet Oerip Prihadi, mantan jurnalis dan redaktur Jawa Pos 1980-an. 

"Ini istilah umum, suporter Persebaya kan banyak yang berasal dari kalangan bawah, mereka itu sering nekat, naik truk dengan uang seadanya berangkat ke Senayan, berangkat ke kota lain, itulah awal munculnya istilah Bondho Nekat 9modal nekat)."

Kemudian istilah Bondho Nekat yang disingkat Bonek itu terus bermunculan di koran-koran Jawa Pos ketika merepresentasikan suporter Persebaya di dalam berita-berita yang dipublikasikan. 


"Bondho Nekat itu awalnya dari `Bondho` (modal), `Nekat` itu nekat. Jadi sing penting kita bermodal nekat, sudah cukup. Kalau mau dukung tim kesayangan apapun dilakukan, entah itu sampai naik truk, uangnya gak ada. Dulu kan suporter Persebaya ada yang carter pesawat, pakai mobil pribadi, tapi ada juga dari kalangan bawah, itu yang benar-benar nekat," sambung Slamet.

Selanjutnya, Bonek terus berkembang dan bukan rahasia lagi bahwa mereka menjadi salah satu elemen penting bagi Persebaya sampai saat ini. Sekarang mental-mental pemain Persebaya akan diuji kembali oleh Bonek seiring kembalinya berkompetisi resmi di Indonesia. Toh Bonek jugalah yang berperan penting atas kembalinya Persebaya ke kompetisi sepakbola nasional. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEJARAH BERDIRINYA PERSEBAYA

Sejarah berdirinya Persebaya Klub kebanggaan Bonek ini berdiri pada 18 Juni 1927 dengan nama Soerabhaisasche Indonesische Voetbal Bond (S...